
Dunia akan berakhir pada 26 September 1907.
Semua orang tahu itu.
Di Berne, seperti di kota-kota besar dan kecil, satu tahun sebelum dunia berakhir sekolah-sekolah ditutup. Mengapa harus belajar demi masa depan yang yang tak berumur panjang? Anak-anak yang gembira karena masa belajar telah berakhir untuk selamanya bermain petak umpet di lorong-lorong Kramgasse, berlarian menuju Aastrase dan melemparkan batu-batu kesungai, menghabiskan uang jajan untuk permen dan gulali. Orang tua membiarkan saja apa yang mereka mau.
Di Berne, seperti di kota-kota besar dan kecil, satu tahun sebelum dunia berakhir sekolah-sekolah ditutup. Mengapa harus belajar demi masa depan yang yang tak berumur panjang? Anak-anak yang gembira karena masa belajar telah berakhir untuk selamanya bermain petak umpet di lorong-lorong Kramgasse, berlarian menuju Aastrase dan melemparkan batu-batu kesungai, menghabiskan uang jajan untuk permen dan gulali. Orang tua membiarkan saja apa yang mereka mau.
Satu bulan sebelum dunia berakhir, kegiatan bisnis berhenti. Bundeshaus menghentikan produksinya. Gedung telegraf federal di Spiechergasse membisu. Suasana lenggang juga ditemui di pabrik jam di LAupenstasse dan perusahaan penggilingan di seberang jembatan nydegg. Apa gunanya perdagangan dan industri bila cuma tersisa sedikit waktu?
Di kafe-kafe di tenda Amthausgasse, orang duduk dan menyeruput kopi, berbicara tanpa beban tentang hidup mereka. Semangat kebebasan memenuhi udara. Seperti saat ini, seorang perempuan bermata coklat berbicara pada ibunya tentang betapa sedikitnya waktu yang mereka habiskan bersama pada masa kanak-kanak, ketika si ibu bekerja sebagai tukang jahit. Ibu dan anak itu sekarang berencana bepergian ke Lucena bersama. MEreka akan bersama-sama selama waktu yang tersisa. Di meja lain, seorang laki-laki bercerita tentang atasannya yang ia benci karena berkali-kali bemain cinta dengan istrinya, setelah jam kerja di ruangan tempat menggantungakn mantel. Sang atasan akan memecatnya bila ia dan istrinya coba cari masalah. Tetapi, sekarang, apa lagi yang ia takutkan? Lelaki itu telah membuat perhitungan dengan atasannya, dan rujuk kembali dngan istrinya. Merasa lega, lelaki itu merentangkan kaki dan membiarkan matanya menjelajahi Pegunungan Alpen.
Di toko roti di Marktgasse, tukang roti yang berjari-jari tebal menaruh adonan di oven dan bernyanyi. Hari-hari ini orang menjadi sopan saat memesan roti. Mereka tersenyum dan membayar dengan cepat, karena uang telah kehilangan nilainya. Mereka berbicara tentang piknik di Fribourg, menghargai waktu dengan mendengarkan cerita anak-anak mereka, berjalan-jalan di sore hari. Mereka seperti tak peduli dengan dunia yang segera berakhir, kaerna semua orang bernasib sama. Dunia dengan satu bulan tersisa adalah dunia dengan persamaan hak.
Satu hari sebelum dunia berakhir, jalan-jalan diliputi gelak tawa. Tetangga-tetangga yang tak pernah bertegur sapa saling memberi salam seperti lama. Orang-orang melepas pakaian dan mandi di air mancur. Yang lain menyelam di Aare. Setelah kelelahan, mereka berbaring di rumput tebal sepanjang sungai dan membaca puisi. Seorang pengacara dan seorang tukang pos yang tak pernah bertemu sebelumnya saling bergandeng tangan menuju Botanischer GArten, tersenyum pada bunga-bunga cyclamen dan aster, berbincang-bincang tentang seni dan warna. Apalah arti masa lalu mereka? Di dunia yang tinggal berumur sehari, mereka sama.
Di bawah satu jalan bayangan sisi jalan Aar gergasse, seorang lelaki dan seorang perempuan menyandarkan diri ke tembok, minum bir dan makan daging asap. Selanjutnya, si perempuan mengajak lelaki ke apartemennya. Ia bersuamikan lelaki lain, tetapi selama bertahun-tahun lelaki yang ada sekarang di apartemennya inilah yang diinginkannya, dan di hari terakhir ini ia akan memuaskan hasratnya.
Sejumlah orang buru-buru memenuhi jalanan dan melakukan perbuatan baik, mencoba mengubah hal-hal buruk yang pernah mereka lakukan di masa silam. Dari semua senyuman yang bertebaran, senyum orang-orang inilah yang tidak wajar.
Satu menit sebelum dunia berakhir, semua orang bekumpul di lantai Kunstmuseum, Lelaki, perempuan, anak-anak membentuk lingkarang raksasa dan saling berpegangan. Tak ada yang bicara. Suasana sedemikian sunyi hingga orang bisa mendengar detak jantung orang di sebelah kanan atau kirinya. Ini adalah menit terakhir dari dunia.
Di atas sana, pegunungan Alpen terbungkus salju, menyatu dalam putih dan ungu, besar dan diam. Sepotong mega mengambang di angkasa. Burung pipit berkedip-kedip. TAk ada yang bicara.
Di detik terakhir, semua orang terasa terlempar dari Puncak Topaz, semua berpegangan tangan. Udara dingin menyambar, tubuh-tubuh seperti tak berbobot. Cakrawala yang senyap terbuka bermilmil panjangnya. Dan di bawahnya, slimut salju yang sangat besar longsor semakin dekat, membungkus lingkaran merah jambu kehidupan.
taken from: mimpi-mimpi Einstein

No comments:
Post a Comment