Hidup ini bukan teori. Mungkin kata-kata ini yang sebenarnya juga teori yang ingin kulaksanakan. Aku lagi bicara tentang harapan dan impian. Dan saat ini aku merasa harapan dan impianku masih jauh dari kenyataan.
Tapi apakah aku selama ini tidak mencoba mancapai impianku? Tentu aku berusaha...
Lalu mengapa masih juga belum tercapai apa yang aku impikan?
Apakah impianku terlalu tinggi?
Apakah aku sudah berusaha dengan sebenarnya?
Apakah kegiatanku sekarang mendukung impianku?
Apakah aku sudah di arah yang benar mencapainya?
Apakah aku kurang sabar?
Beragam pertanyaan lain muncul kala aku terpuruk dalam kebosanan.
Dan kusadari rasa bosan itu adalah seperti ada sebuah baut yang kendur dalam hidup kita.
Rasa bosan membantu kita untuk berhenti sebentar. Menengok kiri-kanan, ke depan dan belakang. Lalu muncullah pertanyaan-pertanyaan itu...Agar kita kencangkan lagi baut itu, dan kembali melaju.
Tapi aku masih belum ingin mengencangkan baut itu.
aku masih ingin berhenti...
Menikmati sebentar pemandangan hutan sekitar..
Menikmati sebentar angin membelaiku...
Dan aku tahu jawabnya. Hidup ini bukan teori.
Aku sudah melangkah tapi masih seribu langkah lagi di depan.
Aku hanya butuh satu langkah lagi untuk mendekati 1000 langkah di depan
dan selangkah lagi..selangkah lagi...
Sekarang Aku hanya butuh 'Mengalami'.....bukan teori.
~Rakuti~
Thursday, February 19, 2009
Thursday, February 12, 2009
CrossRoad
Pagi yang tenang....
Aku duduk di kantin menikmati sarapanku yang agak telat. Pikiranku melayang. Hari yang tenang, pikirku..tidak seperti kemarin-kemarin yang selalu dikejar-kejar kerjaan.
Sambil menikmati sarapanku, seorang staffku duduk didepanku dan menyapa, " Sarapan Pak .."
" Ya silakan. " Jawabku. Aku kembali makan dengan diam, pikiran masih menerawang menikmati damainya hari ini. Entah karena tidurku semalam yang kelewat nyenyak atau apa, aku tidak tau.
Tiba-tiba staffku bertanya, "Bapak akan lima tahun ya kerja di sini?"
Sambil kutatap matanya, kujawab ," Benar."
Kami diam lagi. Dia juga sedang menikmati sarapan paginya...
Lalu aku selesaikan makan pagiku dan segera berkemas menuju mejaku.
Hah, lima tahun?????
Tak terasa waktu begitu cepatnya berlalu.
Rasanya baru kemarin aku lulus dari kuliah.
Baru kemarin rasanya aku dan teman2 menjelajahi hutan lembang yang basah.
Baru kemarin rasanya bersamamu...
Dan lima tahun???
Aku tak ingin lima tahun ke depan berlalu begitu cepat....
-Rakuti-
Aku duduk di kantin menikmati sarapanku yang agak telat. Pikiranku melayang. Hari yang tenang, pikirku..tidak seperti kemarin-kemarin yang selalu dikejar-kejar kerjaan.
Sambil menikmati sarapanku, seorang staffku duduk didepanku dan menyapa, " Sarapan Pak .."
" Ya silakan. " Jawabku. Aku kembali makan dengan diam, pikiran masih menerawang menikmati damainya hari ini. Entah karena tidurku semalam yang kelewat nyenyak atau apa, aku tidak tau.
Tiba-tiba staffku bertanya, "Bapak akan lima tahun ya kerja di sini?"
Sambil kutatap matanya, kujawab ," Benar."
Kami diam lagi. Dia juga sedang menikmati sarapan paginya...
Lalu aku selesaikan makan pagiku dan segera berkemas menuju mejaku.
Hah, lima tahun?????
Tak terasa waktu begitu cepatnya berlalu.
Rasanya baru kemarin aku lulus dari kuliah.
Baru kemarin rasanya aku dan teman2 menjelajahi hutan lembang yang basah.
Baru kemarin rasanya bersamamu...
Dan lima tahun???
Aku tak ingin lima tahun ke depan berlalu begitu cepat....
-Rakuti-
Thursday, February 5, 2009
DUNIA TERAKHIR

Dunia akan berakhir pada 26 September 1907.
Semua orang tahu itu.
Di Berne, seperti di kota-kota besar dan kecil, satu tahun sebelum dunia berakhir sekolah-sekolah ditutup. Mengapa harus belajar demi masa depan yang yang tak berumur panjang? Anak-anak yang gembira karena masa belajar telah berakhir untuk selamanya bermain petak umpet di lorong-lorong Kramgasse, berlarian menuju Aastrase dan melemparkan batu-batu kesungai, menghabiskan uang jajan untuk permen dan gulali. Orang tua membiarkan saja apa yang mereka mau.
Di Berne, seperti di kota-kota besar dan kecil, satu tahun sebelum dunia berakhir sekolah-sekolah ditutup. Mengapa harus belajar demi masa depan yang yang tak berumur panjang? Anak-anak yang gembira karena masa belajar telah berakhir untuk selamanya bermain petak umpet di lorong-lorong Kramgasse, berlarian menuju Aastrase dan melemparkan batu-batu kesungai, menghabiskan uang jajan untuk permen dan gulali. Orang tua membiarkan saja apa yang mereka mau.
Satu bulan sebelum dunia berakhir, kegiatan bisnis berhenti. Bundeshaus menghentikan produksinya. Gedung telegraf federal di Spiechergasse membisu. Suasana lenggang juga ditemui di pabrik jam di LAupenstasse dan perusahaan penggilingan di seberang jembatan nydegg. Apa gunanya perdagangan dan industri bila cuma tersisa sedikit waktu?
Di kafe-kafe di tenda Amthausgasse, orang duduk dan menyeruput kopi, berbicara tanpa beban tentang hidup mereka. Semangat kebebasan memenuhi udara. Seperti saat ini, seorang perempuan bermata coklat berbicara pada ibunya tentang betapa sedikitnya waktu yang mereka habiskan bersama pada masa kanak-kanak, ketika si ibu bekerja sebagai tukang jahit. Ibu dan anak itu sekarang berencana bepergian ke Lucena bersama. MEreka akan bersama-sama selama waktu yang tersisa. Di meja lain, seorang laki-laki bercerita tentang atasannya yang ia benci karena berkali-kali bemain cinta dengan istrinya, setelah jam kerja di ruangan tempat menggantungakn mantel. Sang atasan akan memecatnya bila ia dan istrinya coba cari masalah. Tetapi, sekarang, apa lagi yang ia takutkan? Lelaki itu telah membuat perhitungan dengan atasannya, dan rujuk kembali dngan istrinya. Merasa lega, lelaki itu merentangkan kaki dan membiarkan matanya menjelajahi Pegunungan Alpen.
Di toko roti di Marktgasse, tukang roti yang berjari-jari tebal menaruh adonan di oven dan bernyanyi. Hari-hari ini orang menjadi sopan saat memesan roti. Mereka tersenyum dan membayar dengan cepat, karena uang telah kehilangan nilainya. Mereka berbicara tentang piknik di Fribourg, menghargai waktu dengan mendengarkan cerita anak-anak mereka, berjalan-jalan di sore hari. Mereka seperti tak peduli dengan dunia yang segera berakhir, kaerna semua orang bernasib sama. Dunia dengan satu bulan tersisa adalah dunia dengan persamaan hak.
Satu hari sebelum dunia berakhir, jalan-jalan diliputi gelak tawa. Tetangga-tetangga yang tak pernah bertegur sapa saling memberi salam seperti lama. Orang-orang melepas pakaian dan mandi di air mancur. Yang lain menyelam di Aare. Setelah kelelahan, mereka berbaring di rumput tebal sepanjang sungai dan membaca puisi. Seorang pengacara dan seorang tukang pos yang tak pernah bertemu sebelumnya saling bergandeng tangan menuju Botanischer GArten, tersenyum pada bunga-bunga cyclamen dan aster, berbincang-bincang tentang seni dan warna. Apalah arti masa lalu mereka? Di dunia yang tinggal berumur sehari, mereka sama.
Di bawah satu jalan bayangan sisi jalan Aar gergasse, seorang lelaki dan seorang perempuan menyandarkan diri ke tembok, minum bir dan makan daging asap. Selanjutnya, si perempuan mengajak lelaki ke apartemennya. Ia bersuamikan lelaki lain, tetapi selama bertahun-tahun lelaki yang ada sekarang di apartemennya inilah yang diinginkannya, dan di hari terakhir ini ia akan memuaskan hasratnya.
Sejumlah orang buru-buru memenuhi jalanan dan melakukan perbuatan baik, mencoba mengubah hal-hal buruk yang pernah mereka lakukan di masa silam. Dari semua senyuman yang bertebaran, senyum orang-orang inilah yang tidak wajar.
Satu menit sebelum dunia berakhir, semua orang bekumpul di lantai Kunstmuseum, Lelaki, perempuan, anak-anak membentuk lingkarang raksasa dan saling berpegangan. Tak ada yang bicara. Suasana sedemikian sunyi hingga orang bisa mendengar detak jantung orang di sebelah kanan atau kirinya. Ini adalah menit terakhir dari dunia.
Di atas sana, pegunungan Alpen terbungkus salju, menyatu dalam putih dan ungu, besar dan diam. Sepotong mega mengambang di angkasa. Burung pipit berkedip-kedip. TAk ada yang bicara.
Di detik terakhir, semua orang terasa terlempar dari Puncak Topaz, semua berpegangan tangan. Udara dingin menyambar, tubuh-tubuh seperti tak berbobot. Cakrawala yang senyap terbuka bermilmil panjangnya. Dan di bawahnya, slimut salju yang sangat besar longsor semakin dekat, membungkus lingkaran merah jambu kehidupan.
taken from: mimpi-mimpi Einstein
Thursday, January 29, 2009
WAKTU ADALAH LINGKARAN

Andaikata waktu adalah suatu lingkaran, yg mengitari dirinya sendiri. Demikianlah, dunia mengulang dirinya sendiri, setepat-tepatnya dan selama-lamanya.
Biasanya, orang tidak tahu bahwa mereka akan menjalani kehidupan mereka kembali. Pedagang tidak tahu bahwa mereka akan saling menawar lagi dan lagi. Politikus tidak akan tahu bahwa mereka akan berseru dari mimbar berulang-ulang dalam putaran waktu. Orangtua menikmati sepuas-puasnya tawa pertama anak-anak mereka seolah-olah tak akan mendengar lagi. Sepasang kekasih yang pertama kali bermain cinta malu-malu melepas busana, terkesima oleh paha yang gemulai, puting yang lembut. Bagaimana mereka tahu bahwa tiap kerlingan rahasia, tiap sentuhan, akan terulang lagi tanpa henti, persis seperti sebelumnya?
.....
Dalam dunia di mana waktu adalah sebuah lingkaran, setiap jabat tangan, setiap senyuman, setiap kelahiran, setiap kata akan berulang persis. Begitu pula dengan peristiwa ketika dua orang sahabat berhenti berteman, ketika keluarga berantakan karena uang, ketika kata-kata busuk keluar dari mulut suami istri yang sedang bertengkar., ketika kesempatan menjadi sirna karena dibakar api cemburu, ketika janji tak ditepati.
Dan karena segala sesuatu akan berulang kembali di masa depan, maka yang terjadi saat ini telah terjadi pula jutaan kali sebelumnya. Beberapa orang di setiap kota, dalam mimpi mereka, secara samar-samar menyadari bahwa segala sesuatu yang mereka mimpikan telah terjadi di masa silam. Merekalah orang-orang yang hidupnya tidak bahagia. Mereka merasa bahwa semua penilaian adalah keliru, pernbuatan yang salah serta ketidakberuntungan mereka telah mengambil tempat dalam putaran waktu sebelumnya.Ketidakberuntungan yang berlipat inilah satu-satunya tanda bahwa waktu adalah lingkaran. Karena itulah, di tiap kota, di larut malam, di jalan-jalan lenggang, dan balkon-balkon penuh dengan rintihan mereka.
Bila waktu dan perjalanan peristiwa sama, waktu bergerak lamban sekali. Bila tidak demikian, orang-oranglah yang nyaris tidak bergerak. Jika orang tidak memiliki ambisi di dunia seperti ini, ia tidak menyadari kalau ia menderita. Jika berambisi, ia tahu bahwa ia menderita, tetapi penderitaan itu berlangsung sangat lambat.
Biasanya, orang tidak tahu bahwa mereka akan menjalani kehidupan mereka kembali. Pedagang tidak tahu bahwa mereka akan saling menawar lagi dan lagi. Politikus tidak akan tahu bahwa mereka akan berseru dari mimbar berulang-ulang dalam putaran waktu. Orangtua menikmati sepuas-puasnya tawa pertama anak-anak mereka seolah-olah tak akan mendengar lagi. Sepasang kekasih yang pertama kali bermain cinta malu-malu melepas busana, terkesima oleh paha yang gemulai, puting yang lembut. Bagaimana mereka tahu bahwa tiap kerlingan rahasia, tiap sentuhan, akan terulang lagi tanpa henti, persis seperti sebelumnya?
.....
Dalam dunia di mana waktu adalah sebuah lingkaran, setiap jabat tangan, setiap senyuman, setiap kelahiran, setiap kata akan berulang persis. Begitu pula dengan peristiwa ketika dua orang sahabat berhenti berteman, ketika keluarga berantakan karena uang, ketika kata-kata busuk keluar dari mulut suami istri yang sedang bertengkar., ketika kesempatan menjadi sirna karena dibakar api cemburu, ketika janji tak ditepati.
Dan karena segala sesuatu akan berulang kembali di masa depan, maka yang terjadi saat ini telah terjadi pula jutaan kali sebelumnya. Beberapa orang di setiap kota, dalam mimpi mereka, secara samar-samar menyadari bahwa segala sesuatu yang mereka mimpikan telah terjadi di masa silam. Merekalah orang-orang yang hidupnya tidak bahagia. Mereka merasa bahwa semua penilaian adalah keliru, pernbuatan yang salah serta ketidakberuntungan mereka telah mengambil tempat dalam putaran waktu sebelumnya.Ketidakberuntungan yang berlipat inilah satu-satunya tanda bahwa waktu adalah lingkaran. Karena itulah, di tiap kota, di larut malam, di jalan-jalan lenggang, dan balkon-balkon penuh dengan rintihan mereka.
Bila waktu dan perjalanan peristiwa sama, waktu bergerak lamban sekali. Bila tidak demikian, orang-oranglah yang nyaris tidak bergerak. Jika orang tidak memiliki ambisi di dunia seperti ini, ia tidak menyadari kalau ia menderita. Jika berambisi, ia tahu bahwa ia menderita, tetapi penderitaan itu berlangsung sangat lambat.
(Mimpi-Mimpi Einstein)
Wednesday, January 28, 2009
Tuesday, January 27, 2009
DREAM
Monday, January 26, 2009
SLOW DOWN CULTURE

Author: unknown
It's been 18 years since I joined Volvo, a Swedish company. Working for them has proven to be an interesting experience. Any project here takes 2 years to be finalized, even if the idea is simple and brilliant. It's a rule.
Globalize processes have caused in us (all over the world) a general sense of searching for immediate results. Therefore, we have come to posses a need to see immediate results. This contrasts greatly with the slow movements of the Swedish. They, on the other hand, debate, debate, debate, hold x quantity of meetings and work with a slowdown scheme. At the end, this always yields better results.
Said in another words:
1. Sweden is about the size of San Pablo, a state in Brazil.
2. Sweden has 2 million inhabitants (Indonesia has more than 200 millions)
3. Stockholm, has 500,000 people.
4. Volvo, Escania, Ericsson, Electrolux, Ikea are some of its renowned companies. Volvo supplies the NASA.
The first time I was in Sweden, one of my colleagues picked me up at the hotel every morning. It was September, bit cold and snowy. We would arrive early at the company and he would park far away from the entrance (2,000 employees drive their car to work). The first day, I didn't say anything, either the second or third.
One morning I asked, "Do you have a fixed parking space? I've noticed we park far from the entrance even when there are no other cars in the lot."
To which he replied, "Since we're here early we'll have time to walk, and whoever gets in late will be late and need a place closer to the door. Don't you think?"
Imagine my face.
Nowadays, there's a movement in Europe named Slow Food. This movement establishes that people should eat and drink slowly, with enough time to taste their food, spend time with the family, friends, without rushing. Slow Food is against its counterpart: the spirit of Fast Food and what it stands for as a lifestyle. Slow Food is the basis for a bigger movement called Slow Europe, as mentioned by Business Week.
Basically, the movement questions the sense of "hurry" and "craziness" generated by globalization, fueled by the desire of "having in quantity" (life status) versus "having with quality", "life quality" or the "quality of being". French people, even though they work 35 hours per week, are more productive than Americans or British. Germans have established 28.8 hour workweeks and have seen their productivity been driven up by 20%. This slow attitude has brought forth the US's attention, pupils of the fast and the "do it now!".
This no-rush attitude doesn't represent doing less or having a lower productivity. It means working and doing things with greater quality, productivity, perfection, with attention to detail and less stress. It means reestablishing family values, friends, free and leisure time . Taking the "now", present and concrete, versus the "global", undefined and anonymous. It means taking humans' essential values, the simplicity of living.
It stands for a less coercive work environment, more happy, lighter and more productive where humans enjoy doing what they know best how to do. It's time to stop and think on how companies need to develop serious quality with no-rush that will increase productivity and the quality of products and services, without losing the essence of spirit.
In the movie, Scent of a Woman, there's a scene where Al Pacino asks a girl to dance and she replies, "I can't, my boyfriend will be here any minute now".
To which Al responds, "A life is lived in an instant". Then they dance to a tango.
Many of us live our lives running behind time, but we only reach it when we die of a heart attack or in a car accident rushing to be on time. Others are so anxious of living the future that they forget to live the present, which is the only time that truly exists. We all have equal time throughout the world. No one has more or less. The difference lies in how each one of us does with our time. We need to live each moment.
As John Lennon said,
"Life is what happens to you while you're busy making other plans".
Congratulations for reading till the end of this message. There are many who will have stopped in the middle so as not to waste time in this globalize world.
Have a nice Day ;)
Subscribe to:
Comments (Atom)



